Rabu, Agustus 06, 2008

Ulang Tahunku

Duapuluh empat sudah umur yang hinggap diraga
Berapa lama dan apa yang sudah terlewati masih tersimpan
Dalam hayal atapun lamunan
Detak jantungku mudah mudahan akan lama
Untuk lalui rencana mengubah hidup
Ulang tahun ini
Nanti aku berumur dua lima
Adakah yang peduli
Persetan
Selamat ulang tahun diriku
Semoga hari esok aku bisa lebih kejam
Untuk keadaan yang menghasut pikiran
Semoga panjang umur
Dan cepat lakukan perubahan

Pergantian Waktu Dan Harapanku

Beberapa masa waktu aku menunggu
Semakin banyak umur yang kulalui
Sedih
Bukan karena hari ini
Tapi belum satupun hal yang bisa kubuat
Anganku melambung
Mencipta angan akan masa depan
Nanti setelah lewat tengah malam waktu berganti
Umurku sudah seperempat abad
Tuhan beri kesempatan aku merubah keadaan
Akan kumulai dengan bait terindah
Seolah aku adalah pujangga untuk diriku
Biarlah aku menjadi irama
Sebagai alunan hidup yang membuat orang terlena
Dan jadikanlah aku sebuah lagu yang setiap saat dinyanyikan
Meski itu sebuah hayal
Doaku akan terus berkumandang
Hari kemarin mungkin sangat indah
Tapi aku mau hari ini dan esok akan berubah
Untuk diriku dan sekitar
Selamat ulang tahun
Meski kata basi aku tetap ucapkan
Untuk menyemangati diriku

Senin, Juli 28, 2008

kalah

Wajahku tak terlihat lebam
Hatiku yang memar setelah semalam aku lawan di riku
Aku kalah dalam duel
Jiwaku terkoyak
Aku di bawa dalam keadaan tanpa ingat
Terkapar dimana aku juga tak tau
Aku telah kalah
Sering kali keadaannya begini
Mengekang nafsuku saja aku tak mampu
Sesal sesal dan sesal
Kenapa tak bisa kalahkan diriku

Fuck You

Meremas jari jari di kepanikan
Melepas sadar oleh emosi sesaat
Aku roboh dan terdiam
Kata tak lagi kudengar
Aku jatuh di antara puing penyesalan
fuck you
Diriku tenggelam oleh kesalahan
Kamu menyandang baju sebagai bajingan
Keangkuhan kau pasang seperti topi yang menutupi akal sehatmu
Dekatkanlah tubuhmu kesini
Biar mudah aku meludahimu
Bangsat kamu
Cukuplah aku jadi cerita di hari ini
karena hal seperti ini akan membuat kegilaan
dan silahkan lakukan
karena aku bukan bajingan

Jumat, Juli 25, 2008

Lalu Dan Sekarang

Masa silam yang datang
Hinggap membayang dalam ingat
Menciptakan ketakutan masa lalu
Aku terdiam
Jiwaku keruh
Penantianku tidak tertentu
Mengarap hanya sebuah kesedihan
Lama sudah aku mati
Tak sekarang saja sedih ini
Hanya menyanyikan sebuah nama yang sadarkanku
Tentang keberhasilan dunia gelap yang aku taklukan
Tapi itu dulu
Sekarang aku berdiri di tengah terang
Dan aku bingung senjata apa buatku berperang
Untuk menikam lawanku yang penuh pura pura
Dan menangkan pertempuran ini
Sebagai satria unuk hatiku sendiri
Kuatkan aku
Dan jadikan aku yakin dalam dunia yang tak aku ketahui

Tanah Baru Yang Aku Belum Tau

Merangkak dalam dunia yang kering
Berenangku setelah dari masa gugur itu
Dimana jiwa jiwa yang dulu tersenyum
Oh tuhan tanah siapa ini
Wajah penuh dendam yang dalam
Melihat tajam ke arahku
Kemana lagi senyum manusia disini
Hilangkah kesopanan dalam bersosial
Ini hutan
Dan aku harus menjadi macan
Aku juga akan mengoyak lawan
Untuk takluan dunia baru yang kurang menawan

Apakah Nyawaku Seharga Kebahagiaanmu

Indah membuai raga
Terbang indah harumu membius sukma
Aku terkapar oleh aura aura cinta itu
Lidahku kelu tanpa ada kalimat yang sejukan
Airmataku dipaksa menentes oleh deritamu
Tak tahan lagi
Rasa hatiku tinggal sedikit nyali
Kemampuanku memandang kesedihanmu telah berahir
Cukuplah kau rasakan derita
Izinkan bebanmu tinggalkan di bahu
Membuatmu tersipu dan tersenyum adalah harapku
Segala salahku semoga di hapus nyawaku
Salamkan jiwaku untuk tebusan deritamu
Ingatkan hatimu pernah ada aku
Sedikit hati yang sayang
Mencintai bidadari bersayap kesedihan

Rasa Salah Yang Dalam Menenggelamkanku

Bayang itu masih jelas
Saat Kemarin Kamu masih tanyakan kabarku
Aku sangat heran dengan keangkuhanku
Hingga belum tersadar juga bahwa aku butuh
Sebuah semangat yang selalu keluar dari bibirmu
Maaf aku dalam jerat paksa yang menghasut
Keadaan tak pernah akurkan kita
Setiap kali aku buatmu kesal
Seringkali juga air matamu menetes
Dan tak jarang aku melihatmu murung
Aku harus gimana ?
Hati ini mencintaimu
Badan ini membutuhkan bimbinganmu
Aku gak tau lagi harus gimana menebusnya
Membayar semua apa yang sudah kulakukan
Maafkan

Rabu, Juli 23, 2008

Temanilah Aku Sebagai Seorang Teman

Disini tanah yang dekat tapi tak pernah kudatangi
Jiwa dan ragaku sedang berdiri disini
Dan aku belumm tau apa yang akan kucari disini
Hai teman bantu aku
Bangkitkan semangatku di tanah dulu
Aku butuh tempat menceritakan keluh kesah
Membagi tawa untuk masa laluku
Dan berencana untuk menyerang masa depan disini
Teman kasih aku sebuah nyala api
Maka kalian akan tau bahwa aku punya banyak nyali
Untuk menghanguskan kesombongan dan keangkuhan sekitarku
Teman aku butuh kalian
Tolong buat aku betah untuk berperang disini
Untuk menjadikan matiku sebagai bukti

TENGGELAM DI TEPIAN KERAMAIAN

Menderu
Mencipta haru
Menyeka peluh dalam ketakutan
Telanjang dari segala keramaian
Sedih
Menangis
Menetes darah saat derita
Tawa takan pernah kembali
Kekecewaan menari
Menyekat kesepian
Dalam kalbu yang tak lagi biru

BERJALAN DI SETAPAK PERASAAN YANG GELISAH MENCARI DIRIKU

Berapa tahun ini aku terus berjalan
Menelusuri jalan hidup yang keras
Mencari jawaban dari pertanyaan untuk diriku
Menyelam dari pantai ke samudra
Yang berahir dalam sebuah palung sangat dalam
Disitu pun tak aku temukan
Dimana diriku pernah tenggelam
Jalan ini terlalu jauh
Jati diri itu masi saja kucari
Dan dimana adanya tak pernah di mengerti
Kegalauan yang memaksa nurani
Belantara jiwa yang penuh tanya membawaku ke rimba
Termenung ku di akar angan angan
Kulihat diriku buas tak mampu kuasai perasaan
Kemauan yang di hasut oleh emosi
Dan selalu ditikam oleh penyesalan penyesalan
Rintangan ini sangat pendendam
Memaki dan menghina ketidak berdayaan
Karang masih kuat hadapi ombak
Kutanggalkan pakaian masa silam
Berusaha jadi karang kuat hadapi keadaan
Pencarian ini belum selesai
Penderitaan ini hanya awal
Untuk aku lebih kuat dan tegar
Untuk membalikan dunia

Mencipta Batas Di Langitku

Berkendara angin kuraih atap dunia ini
Kucoba goreskan tinta angan di atas awan
Sedih, sepi, marah, kecewa dan benci ini tintaku
Untuk mencoreng perasaan yang telah hilang
Sia sia apa yang telah terlewati
Meski sudah kubuat batas dalam ujung perasaanku
Yang kaulukiskan itu ternyata harapan semu
Bertahun tahun mencoba untuk percaya
Tanpa harus kucurigai kecemburan
Dan tak pernah kubungkam rasa itu
Tapi kini sudah beda
Hatimu tak punya batas untuk mencintai
Bawalah kesan pergi
dan nikmatilah untuk kematian yang di cipta benci
Karna takan pernah bisa kamu untuk mengerti
Mencintai dan di cintai

MUSIM DINGIN SEPANJANG TAHUN DI PERASAAN

Matahari bersiap pulang di peraduannya
Di pasanglah tirai gelap yang panjang
Terpenuhi langit oleh hitam sang malam
Binatang kegelapan menangis menyambut hadirnya
Terasa sekali sedih dan kebekuan
Airmata ini menetes untuk kepergian dari masa indah dulu
Sangat terasa aku kehilangan oleh kasih
Pagi takan pernah menyapaku lagi
Hanya butir salju yang bekukan hati
Dingin sepi
Kapankah musim ini selasai
Aku rindu matahari hidupku
Karena kamulah yang bisa luluhkan kebekuan hati

Angin sangat kencang meniupkan keputus asaan
Semakin tersa bahwa ini kesendirian yang mencekam
Satu satu daun jatuh
Bumi tak mampu mendengar ratapan
Meski di pangkunya hanya diam yang bisa dilakukan
Tanah yang tak bisa bebelas kasih
Melihat harapan yang pucat terombang abing
Adakah selimut yang bisa menghangat
Karna musim ini sungguh menyiksaku
Membelenggu dalam sedih dan kesepian tak berujung

apa nanti akan datang lagi musim bahagia
Yang akan membuat bunga bunga tumbuh lagi
Dan memaksa burung burung kecil menyanyi riang
Mengahiri sepi yang mencekam
semoga tumbuh lagi harapan ini di musim yang mencekam

ASA DI TANAH BARU

Awalan yang tercipta dari niatan
Ku pacu roda hidupku
Mulai kuinjak tanah baru untuk sebuah harapan
Selamat siang jakarta ....... kuteriakan salam pada kota ini
kucari tombak untuk mulaiku berperang
Kubuat ribuan lamaran
Tapi tak satupun ada pinangan yang kuharapkan itu
Aku mulai resah dan galau
Tak satupun aku lihat medan untuku berperang
Dengan terpaksa aku hanya bertahan dari keadaan

Jiwaku lelah oleh penantian
Berteriak dan meronta hari hariku
Harus kumulai lagi mencariku
Mengais ngais dan memulung harapan di reruntuhan
Dan kusedikit berharap nanti aku akan menemukanya
Jati diriku melintasi hidup ini


( 13-02-2000 ) Stasiun jatinegara

TERPERANGKAP DALAM HATI YANG BERKACA KACA

Berterbangan harap tanpa nyata
Hanya beberapa kata yang sempat terucap
Cinta, cinta dan cinta
Berulang kali itu terucap
Aku tak bisa keluar dari kalimat itu
Seperti lalat di depan jendela saat ini aku
Berusaha ku keluar melihat kenyataan
Tapi terhalang dinding transfaran yang tembus pandang
Lidahpun tak mampu lagi berkata
Hanya kebodohan dan sedikit harap yang ada

Keindahan yang tak bisa kuraih
Kucoba terbangkan anganku kesana
Tapi jiwaku tertinggal dan terkurung dalam keadaan
Sebuah penjara yang menyiksa
Kebebasan mungkin akan jadi mimpi saja

Mungkin raga ini akan membusuk
Tapi rasa ini yang akan terus ada
Penjara ruang kaca ini akan jadi sebuah museum
Dimana banyak peninggalan untuk cinta dan cita
Walau semua tau kenyataannya telah sirna

Aku frustasi
Kuhantam dinding jiwa
Dadaku tergores oleh serpihan harap yang tinggal puing
Asaku melemah
Hayalanku sirna dan angankupun punah
Selalu ingatlah bahwa semua ini ada ahir
Dan itulah yang mengantarku dalam kekal
Selalu mengingat kisah

Minggu, Juni 29, 2008

Membelah lautan jiwa

Tebing curam tepian hatiku
Tercipta curam untuk keramaian
Gairah jiwaku tak menentu
Pasang surut kesedihanku menelan lamunan
Mana pantaiku ....?
Samudraku sepi
Hatiku terperosok dalam palung
Aku rindu ombak besar
Yang akan mendamparkan aku di lautan masa lalu
Untuk mencari pertolongan
Bisakah aku kembali ke zaman nabi musa ?
dengan tongkatnya akan kubelah kesepian jiwa
Dan tenggelamnkan raja hasutan yang cipta sepi
Untuk bisa kuberjuang dengan kesendirian ini

Dilema

Mengerang dalam kehausan harapan
Terjaga dalam mimpi tak berujung
Aku duduk dalam alas pertanyaan
Diriku terjebak dalam dilema hidup
Disana ada sebersit perasaan yang tertinggal
Disini ada sedikit pengharapan semu yang aku juga tak tau
Terlalu berat kepalaku hadapi ini
Beri sedikit jawaban untuk tanyaku






Taman apsari surabaya

Selasa, Juni 03, 2008

Keramaian yang menyepikan

Sajak Di Kegelapan Hampir Pagi

Jelajah anak panah
Menembus relung
Siksakan asa tak pernah tergulung
Kesunyiang meraung menyayat
Kesombongan menenggadah
Menanda emosi belum pernah kalah
Sepi merobek hati
Menagih muka dendam
Untuk janji yang tak tertepati
Kubungkam malam dengan nyanyian
Dan kutendang keramaian dengan puisi
Kuteriakan sajak makian
Untuk menciutkan keberanian gunung dan perbukitan
Lari lah
Menangislah
Karena aku masih dan akan terus disini

Gelombang Hati Terjerat Malam

Usai sudah yang tak terfikirkan
Kemarahan hadir seperti ombak
Yang memaksaku termenung
Menatap hitam selimut alam
Gelap mendera malam
Raga lunglai oleh belitan sepi
Tulang belulang hancur tak mampu berdiri
Tangan hanya hiasan pelengkap badan
Telinga akan terpekak oleh teriakan sunyi
Menjebol gendang pendengaran
Sayatan nyaring kidung kesedihan
Kupagarkan raga dengan lautan
Lindungi perasaan dengan debur ombak
Yang seimbang surut dan pasang

Rabu, Mei 21, 2008

Saat Akal Sehat Di Hasut Kemarahan

Saat kutatap muka merahku dicermin
Sadarku baru hinggap akan kemarahan
Tanganku terkepal keras
Inginku saat ini meludah
Tapi muka itu tak ada untuk menerimanya
Tanah ini pun kubuat mual oleh kebencian
Kurobek langit saat kembali kuingat itu
Akan kutusuk ribuan kali jantungmu
Rambutmu kujambak sampai rontok dari kulit kepala
Biar aku mudah menelan otakmu yang kotor
Meski kau minta ampunan
Pedangku akan kutebaskan ke kedua tanganmu
Biar tidak semena kau menunjuk sesuatu
Setelah selesai mulai kurobek dadamu dengan tanganku
Hatimu akanku berikan pada anjing
Ingatlah kemarahanku tak gampang padam

Selasa, Mei 20, 2008

Saat kepedulian Aku Acuhkan

Langkah ku tinggalkan di tempat itu
Di antar dua sahabat ke terminal Pagi
Sudah lewatlah sedikit keinginan disini
Semalam adalah perlakuan kejam sekali dalam hidup
Bayangan itu kubawa naik dalam bis yang antarkanku
Dalam tujuanku angin membawaku terlelap
Wajah AMAN yang ku ingat sangat peduli denganku
Ingin sekali aku dalam lindungan Adek Bapaku
Dalam dunia nyata ataupun mimpiku sekarang dia adalah yang mengerti
Tapi aku merasa dia terlalu bijaksana dengarkan keluh kesah ini
Kemarin dihari itu ada temanmu yang tusukan belati pada kemarahanku
Ingin sekali kupakaikan baju duri pada temanmu itu
Mau aku potong telinganya untuk hiasan dalam ruang ini
Dia mengusir dengan kata tajam di depan teman teman baruku
Jelas sekali dalam keseriusan tak suka dengan adaku
Aku merasa Aman jika ada AMAN
Dalam tidurpun aku takut kecewakan KAMU
Mungkin kuputusan untuk jauh dari AMAN adalah terbaik
Karena menjadi Keponakan lebih aman daripada jadi rekan
Mungkin aku aman dalam kedudukan saat ini
Tanpa sekitarmu sinis dengan hadirku
Aku tak ingin menoreh noda kemuka Mu
Dan aku takan lagi alirkan darah untuk kebencianku
Janganlah Kau tanggung beban masa depanku
Kalau itu pertaruhkan reputasimu
Amankan emosiku dengan pilihanku Yang mungkin saja salah
Kepedulianmu takan sia sia
Di medan perang lain aku akan bertarung
Dengan pedang yang telah kau wariskan
Hingga kucipta suasana yang iklas dalam diri
Menggapai keadaan aman untuk terus dalam Keamanan perasaan
Maafkan aku acuhkan kepedulian
Karena bakal ada kejadian yang tak terkira bila aku disana
Mungkin itu kematianku atau kematianya
Maka dari itu Biarlah langit yang aku robek
Dan cukup laut yang terkoyak oleh kemarahan
Biarlah temanmu tenang dalam kepura puraanya
Dan mencari muka untuk reputasi yang gak perlu ada
Berhati hati saja karena susah mencari jarum dalam jerami
Tak menutup kemungkinan adanya pemberontakan sepertiku
Kasian remaja yang selalu dalam tekanan
Karna imaji meraka takan pernah ada dalam situasi ketakutan
Pastikan teman temanku dalam keadaan AMAN
Oleh iblis yang penuh kepura puraan itu

Senin, Mei 19, 2008

Tengah Malam Di Menanggal

Sisi ruang di atas dasar
Tempatku duduk dan tulis ini
Aku merasa ada yang beda
Malam jakarta dengan malam surabaya
Disini dingin tapi membara
Panas merajut mimpi untuk mengakiri
Ketersinggungan ini akan terus aku bawa
Apa yang terjadi tadi
Pemicu ledakan murka yang kupendam
Kesan pertama yang tak kuharap
Ingin aku jungkir balikan surabaya
Dalam pelukan kasihku
Tapi amarahlah yang menang
Karna terus bertubi dan mendera
Cukup sudah semua
Akan kubawa ini Dalam kemarahan
ingatkan pada setiap nama

Rembulan Diantara Menara Besi Di Surabaya

Setelah malam lewat tanpa mata terpejam
Langkah kaki sudah ditanah berbeda
Perutku tertanam ranjau
Kepalaku terikat kawat berduri
Banyak orang baru ditempat ini
Dari pagi berangkat menemui sore
Menuju yang sesuatu yang aku belum tau pasti
Banyak hal baru
Yang semua belum tentu aku suka
Dibawah menara itu akal sehatku terhasut
Hampir kuremukan muka manusia yang penuh pura
Tapi ada sedikit sadar yang buat aku sehat kembali
Badanku sakit ragaku perih
Tapi ada yang berani tusukan kata pada perasaanku
Hanya sekedar tulisan dimana ada ingatan disana
Ada satu topeng yang penuh dengan fatamorgana

Berjalan Di Bebatuan Padas Yang Tajam

Dalam aliran sungai panjang ini
Bejalanku penuh keinginan menyusuri
Tanpa alas kaki Sebuah harapan
Ukiran tajam batu hujam setiap sesalku
Berjalanku terus dengan sisa ingin
Darah berceceran alirkan kesedihan
Sudah ratusan batu telah kulalui
Kini sudah sampa aiku ke batu penentuan
Merinding aku melihatnya
Tetes demi tetes telah ubah warna air jadi darah
Batu yang ini begitu tajam
Masih adakah sisa darah untuk lalui
Sampai kemata air yang bisa segarkan ingatanku
Dan basuhkan pedih selama ini

Empat Malam Di Ahir Keputusan Dan Salah Satu Malamnya Aku Menangis

Didera bayang semu pelupuk mataku
Terpaksa ahiri semua asa harus dimana
Dulu banyak kata dan semangat untuk membangunnya
Keputusan yang gak pernah adil buatku
Korbankan harapan beberapa orang dibawah
Pemimpin sialan yang aku temui
Korbankan hak hak yang harus di perjuangkan
Setelah malam itu di meja bertiga
Aku marah dan murka
Selalu dalih proses yang dibicarakan
Aku menangis
Aku sedih
Karna harapan yang dulu ada
Kini mati karena kepentingan dan masukan orang
Kutangisi pun takan kembali
pedangku meski harus menebas batang leherpun takan merubah
Kekecewaan yang dalam akan keputusan yang kalian kukuhkan

DALAM HAMPA KERTAJAYA

Beranjak pergi dengan matahari
Memacu langkah terseret ragu
Besi panjang menjerit yang akan mengantarku
Penuh sesak jalanku masuk
Memaksa kaki untuk enggan beristirahat
Begitu banyak orang disekitarku
Teriakan asongan tak buyarkan kesepian yang mendera
Sekililingku bergemuruh kata manusia
Tapi tak satupun aku lihat wujudnya
Malam ini aku berangkat kesurabaya
Anganku melambung gundah
Keringat yang tertetes menambah kebingungan disana
Untuk berapa jam kedepan aku harus berdiri
Sama juga seperti asaku
Tak ada tempat untuk istirahat dalam lelah
Kerta jaya
Kereta ini mungkin akan menentukan dimana aku akan berada
Jutaan tanya banyak tercipta
Angin malam sudah terlalu banyak kuhirup dai celah jendela
Kopi energen susu begitu teriakan pedagan didalam
Sekali aku melirik melihat pemandangan ini
Kuganti arah pandangku kesudut gerbong
Lelaki tua yang lelah membawa koran lusuh
Dalam hati kujawab ini adalah ranjang keterpaksaannya
Semakin larut aku dalam suara gemuruh kereta
Mimpiku diambang kesadaran
Gelap dan gemuruh membius dalam setengah sadar
Selepas subuh ingatan kembali menyapa
Surabaya kah ini ......?
Cerita ini tak aku ahiri dengan realita
Karna masih ada keraguan yang hinggap dalam dada
Hanya satu harap dalam bayangan
Surabaya akan bersahabat dan menyapa
Karena aku tak tau disini sampai berapa lama
Pagi ini aku sudah di tanah Surabaya
Dan takan pernah tau apa yang akan ku alami disini
Semoga ada pencerahan dalam kegundahanku
Meng ahiri jalan kertajaya di surabaya

Sabtu, Mei 10, 2008

Desa Tempatku Kembali

Diselatan ujung indonesia
Tempat kelahiran Calon kesatria dalam hidupnya
Dikelilingi bentangan hijau bukit tak bernama
Berpagar lautan luas di pesisirnya
Wajah hijau desaku yang sekarang pucat
Selalu ingin kubasuh dengan citaku
Angan ini akan selalu terbang kesan
Harapan ini berharap akan kematian ditanah itu
Desaku
Aku akan kembali padamu
Bermanja dengan ibu bapak
Bertegur sapa dengan teman kecil
Dan menunggu datang saat itu
Untuk tanah memintaku

UNTUK ANAK NEGERI

Derai tangis anak negeri ditengah lautan biru
Teriak haus dan lapar diantara susu dan pangan yang melimpah
Tanganku mengepal hatiku pilu menahan dendam
Melihat penderitaan saudaraku disegala penjuru
Hai para raja yang disana haruskah ini kau tau ?
Melihatkah kalian generasimu diracun dengan tindak pembodohan
Masihkah banyak lagi darah dan air mata yang tumpah
Hanya untuk ketidak adilan ini terus berlangsung
Demi tulang iga para saudaraku yang menonjol diantara kulitnya
Untuk air mata dan keringat duka yang diperas
Dan untuk nyawa yang tak pernah di ingat dalam angannya
Tanpa kita tau bahwa meraka adalah garis keturunan pemerdeka
Sungguh akan habis nasionalis dinegeri ini
Kalo kroni kroni pembangkang, penjilat dan pengahasut masih bercokol
Pencipta semesta kirimkan azab untuk mereka kembali mengingat
Mengingat masa depan negeri ini dan kelangsungan generasi yang dihargai




(KOKO)

Mata hari kembali

Mata hari kembali
saat siang tak lagi setia dengan sang surya gelap datang selimuti dan malam akan datangkan hiasannya seperti bintang dan bulan untuk tempat yang selalu dirundung sunyi, malam .... ? ruang kontemplasi dan instropeksi buat diriku.