Sabtu, Desember 13, 2008

rasa yang tak pernah sampai

dalam beberapa bulan terahir ini aku terjebak dalam suasana yang kurang bahagia
hariku di isi kembimbangan dan mimpi mipi harapan
dia cukup menjeratku dalam bayang atau angan
ruang dan waktu terpotong dengan rasa rindu meski hanya terlempar dngn suara
memang aku tau nggak pernah pantas aku menjadi untukmu
tapi kenapa aku merasa banyak hembusan yang terlalu meyakinkan
dan banyak hal yang membuat aku semakin cinta dan membutuhkannya
memang tak pernah ada kata yang terucap apa berucap
kamu telah menggambar angan ini menuju masa nanti untuk bersama
semua jadi indah meski masih jauh dari nyata
sewaktu datang kata yang terlalu memukul asa
aku hilang dalam emosi kekecewaan yang dalam
hubungan ini nggak mungkin di bawa ke jenjang yang lebih serius
itu katamu..............
aku hancur aku langsung mati dalam kegalauan ini
sampai ahirnya aku membuat kesalahn besar dengan mengirim pesan
maafkan aku
akan kubangun kebanggan dulu dan akan pasti aku datang meminangmu

Rabu, Agustus 13, 2008

Menjelang Subuh Saat Hujan Membasahi

Malam mendera rasa sedikit benci yang tercipta
Sadarku Tak pernah tertidur saat gelisah bersahabat
Di ahir malam ini kembali datang kesedihan
Menikam meremukan akal sehat
Membuat luka dalam relung sepi disurabaya
Tersadar langit muram oleh keputus asaan
Setitik air mata pertama yang jatuh di agustus ini
Kota ini basah dengan keluh kesahku
Subuh ini kesegaran pertama tercipta ditanah ini
Hujan membasahi kota yang sekarang menjebaku
Meski harus ku alirkan lagi sedih sedih ini
Jiwa takan lagi bergairah
Karena hilang sudah sebuah harapan untuk disana
Saat subuh ini aku teringat dengan semua
Kegagalan yang memberi belajar dan trauma
Oleh beberapa anggapan yang ada

Terjerat Gundah

Gelap memasang jerat pada kebimbangan
Langkah ragu gontai kembali pada masa lalu
Deburan ombak lemah tak mampu capai kenyataan
Pasir pantai pun gemerisik resah
Berat menelan gundah kehidupan
Terdiam dan memandang kosong renungan
Lama sudah tercipta rasa ini
Kepedulian hanya sebuah angin yang membelai sesaat
Aku ingin kembali
Di buai ribuan mimpi tentang keindahan masa depan
Tak yakin lagi apakah aku mampu melewati
Setelah beberapa cinta yang pergi
Dalam sadar ku berfikir tentang damai
Bila nanti waktu tiba semua akan selesai
Berhenti untuk nafas
Dan kembali tanah pada tanah ini

Sabtu, Agustus 09, 2008

Dipelukan Ibuku

Terbayang dalam pangkuan
Ditimang penuh rasa sayangnya
Itu terus teringat dalam benak
Anganku selalu membawa pulang
Mengulang masa manjaku saat itu
Tidur dalam belaian bunda
Bemanja minta dongeng waktu dulu
Mengantar mimpi indah dalam lelap
Ibu aku mau pulang
Masakan masakan kesukaanku
Dan aku minta itu disuapkan
Ibu aku kangen
Aku mau melapas semua bebanku Bu
Aku mau damai dalam peluk kasih Ibu
Ibu anakmu merindukanmu

Bosan

Bangun dalam kesepian
Berjalan menuju sebuah rutinitas membosankan
Sekian kilo meter terlampaui
Menyambut delapan jam dengan sendiri
Sama siapa aku protes
Dengan siapa juga aku lewati hari ini dan yang kan datang
Liat yang lain
Mereka beraktivitas dengan penuh canda
Aku iri Aku dengki
Keadaan telah menipu
Hak dan kewajibanku tidak seimbang
Hingga mencipta rasa malu
Menerima hak tanpa ada kewajiaban yang ditunaikan
Cepat ahiri masa ini
Karena aku sudah bosan

Bunga Abadi Yang Sempurna

Berurai ombak hitam rambutnya
Merekah indah bak delima ditaman surga
Sayup hembusan nafasnya seperti seruling jiwa
Hipnotis kesempurnaan untuk mata yang mellihatnya
Warna kulit yang tak bisa diuraikan oleh rasa kagum
Suara merdumu membius malam dalam keabadian
Yang takan terang tanpa kerdipan indah bola mata
Haruskah aku mati ditebas tajam sayu tatapanmu
Tak tau lagi berapa ribu kata untuk menggambarkan semua
Jantungku bisa ribuan kali berdetak untuk menahan perasaan
Cukuplah aku berandai untuk bisa memelukmu
Karena keindahanmu cukup menyejukan
Untuk jiwa gersang yang kering oleh sayang
Semoga bunga ini di petik dewa
Dan abadi selalu mekar disurga
Untuk menebar wangi damai dalam setiap jiwa

Melewati Masa Nanti

Hari baru
Masa telah berganti
Sebuah nama tak ada lagi
Rasa datang dan pergi
Kutanya diriku
Butuh apa untuk hari hariku
Ternyata aku hanya butuh tetes embun
Meski tak menghilangkan dahaga cukup untuk dinginkan emosi
Bosan sepi dan keterpurukan takan bisa mengintimidasi
Karena aku seorang petarung yang siap mati
Menikmati kesengsaraan seperti sebuah angin berhembus
Dengan senyum lebar melewati sepi yang merong rong harga diri
Walau akanku tersadar oleh tusukan sebuah ingatan duniaku yang dulu
Aku akan berhayal dan berharap disini
Bakal tercipta banyak asa yang menuntun dalam harap kepastian
Untuk maju susuri jalan yang akan mengantarku
Dalam perang besar yang menghadiahkan kemenangan
Untuk para raja yang bisa mengalahkan diri sendiri
Yang keluar sebagai jura dari hasutan nafsunya

Kado Pahit

Terlewati tiga hari
Dari masa transisi pergantian masa terlewati
Kau pertanyakan lagi sebuah kesetiaan
Penjelasan tak pernah bisa padamkan keraguan
Memang telah banyak waktu yang kita lewati
Terlalu banyak memang salahku
Kulewatkan banyak rasa sayang
Tidak sedikit waktu memang kutak pedulikan
Memang kata maaf gak cukup menebusnya
Aku tak pernah dapatkan kesempatan membuktikan
Karna salah sudah terbayang saat ku berkalimat
Maaf kalo banyak air mata untuku
Tapi kamu harus tau kata hatiku
Untuk mengingat masa yang sudah terlewat
Selamat tinggal untuk semua yang terlewati
Mungkin suatu saat dalam situasi yang berbeda
Mulut kita masih bertegur sapa
Ku ahiri saja semua
Untuk isah ini
Karna sebuah kado pahit di hari masa baru aku lalui

Saat Hati Tak bersatu Karena Rasa Ragu

Terjadi adalah sebuah pasti
Hari ini terputus sudah ikatan cinta
Beda paham rasa suka yang mendera
Mencipta racun mematikan kepercayaan
Heran belum habis tertuang
Kamu selalu ada kesalahan untuku
Jarak memang sudah terlampui
Jauh ini kurasa akan mendekatkan hati
Siapa saja bisa mengucap
Pembelaan diri juga bisa kuperbuat
Untuk tuduhan bahwa keraguan itu begitu kuat
Tak bisa lagi ku berkata
Dimatamu aku ada pesakitan rasa setia
Biarlah kalo ini sudah menjadi maumu
Iklas bisa kepelajari di hari hari tanpamu
Walau sedikit harap masih bisa berucap
Untuk sebuah ruang dihati

Dalam Hening Diam Diam Aku Mencintanya

Hening dalam relung
Mencipta rasa kagum tak terukur
Oleh paras sama wajah bidadari
Dalam sudut apapun sempurna
Jiwa jiwa lelah dalam penantian
Terbang untuk sebuah rasa cinta
Yang datang layaknya angin
Membeku untuk mengungkapkan
Rasa cinta ini tak mau aku dia mengerti
Tersendat anggap oleh sayangnya
Yang sudah terikat rantai rantai rantai cinta
Berharap bergandeng mesra oleh rasa takut
Mencintai untuk sebuah rasa ihlas
Biarlah Yang sudah ada menjaganya
Karna cinta bukan memisahkan

Dalam Hayal Aku Memujamu

Waktu itu aku melihatmu dalam diamku
Terlihat rona keanggunan yang selalu kubayangkan
Berbalut pesona yang sangat membius
Berselang waktu mungkin takan bisa kutatap matamu
Menyiksa kenangan bertemu dalam lamunan
Bayang wajah itu selalu mengacau rasa tak peduli
Dalam hati aku tertawa
Lamunanku kalah oleh dugaan
Karna aku yakin pasti bertemu
Saat datang memang tak berpaling
Kesempatan memuaskan mataku dengan keindahan
Sebuah mata air manis yang kurasa
Semua rasa tercampur oleh adukan kecantikan
Aku belum percaya saat itu adalah nyata
Tapi biarlah kenagan yang bercerita
Kamu ada juga bukan untuku
Tapi kumohon jangan larang aku suka sama kamu
Wanita indah yang hadir dalam dilema hari hariku

Ketika Inginku Bercerita

Sampai saat malam ini aku belum bisa menemukan beberapa rasa yang bisa membuat aku jatuh cinta pada tempat ini, aku tak tau apakah ini sebuah ujian kesabaran atau hanya jebakan ?, dalam kurun waktu yang lumayan lama aku hanya berdiri, diam, duduk, bebaring dan hal hal lain yang menyebabkan aku semakin bodoh dan pemalas, kadang aku ingin lari dari perangkap kebosanan yang menghantui hari hariku, sering aku berhadapan dengan keinginan yang bisa membuat jatuh di tengah anggapan beberapa orang yang memang tidak mengharapkan kedatanganku, berulang aku jatuh dan terlalu sering aku dikelilingi sepi dan bosan, saat aku hampir terseok kepercayaan untuk komit disini ada teman yang selalu yakinkan bahwa ini belum datang hari perang yang sebenernya buatku, hahahahaha aku hanya berharap sedikit karena memang tak berani berharap banyak untuk sebuah keinginan yang mungkin bisa membuat aku terperosok dalam arus sungai kebencian yang sudah tertananam, pada waktu yang sudah ditentukan aku akan terbang aku akan berlari dari semua yang membelenggu cara pikirku, tak tau doa apalagi yang musti kubaca untuk bertahan dari sepi dan bosan, suatu saat aku akan pergi tapi dengan meninggalkan sebuah prasati yang bakal sedikit membuat beberapa orang ingat bahwa aku serius dalam berdedikasi, fuck you kebosanan

Rabu, Agustus 06, 2008

Berkata kata untuk aku

Harapan saat ini adalah mengganti cara fikir yang sudah lama di hasut oleh emosi emosiku, kadang aku berfikir kapan aku bisa membuat bangga orang tuaku,duapuluh empat tahun terlampui dengan banyak hal yang sebagian hitam, aku sangat menyesal dan terlalu kudendam dengan masa lalu, Ya tuhan jadikan ini awal untuk aku memulai hidup baru, meski tidak berguna buatku paling tidak orang tua handai tolan bisa tersenyum dengan masa baruku.

Ulang Tahunku

Duapuluh empat sudah umur yang hinggap diraga
Berapa lama dan apa yang sudah terlewati masih tersimpan
Dalam hayal atapun lamunan
Detak jantungku mudah mudahan akan lama
Untuk lalui rencana mengubah hidup
Ulang tahun ini
Nanti aku berumur dua lima
Adakah yang peduli
Persetan
Selamat ulang tahun diriku
Semoga hari esok aku bisa lebih kejam
Untuk keadaan yang menghasut pikiran
Semoga panjang umur
Dan cepat lakukan perubahan

Pergantian Waktu Dan Harapanku

Beberapa masa waktu aku menunggu
Semakin banyak umur yang kulalui
Sedih
Bukan karena hari ini
Tapi belum satupun hal yang bisa kubuat
Anganku melambung
Mencipta angan akan masa depan
Nanti setelah lewat tengah malam waktu berganti
Umurku sudah seperempat abad
Tuhan beri kesempatan aku merubah keadaan
Akan kumulai dengan bait terindah
Seolah aku adalah pujangga untuk diriku
Biarlah aku menjadi irama
Sebagai alunan hidup yang membuat orang terlena
Dan jadikanlah aku sebuah lagu yang setiap saat dinyanyikan
Meski itu sebuah hayal
Doaku akan terus berkumandang
Hari kemarin mungkin sangat indah
Tapi aku mau hari ini dan esok akan berubah
Untuk diriku dan sekitar
Selamat ulang tahun
Meski kata basi aku tetap ucapkan
Untuk menyemangati diriku

Senin, Juli 28, 2008

kalah

Wajahku tak terlihat lebam
Hatiku yang memar setelah semalam aku lawan di riku
Aku kalah dalam duel
Jiwaku terkoyak
Aku di bawa dalam keadaan tanpa ingat
Terkapar dimana aku juga tak tau
Aku telah kalah
Sering kali keadaannya begini
Mengekang nafsuku saja aku tak mampu
Sesal sesal dan sesal
Kenapa tak bisa kalahkan diriku

Fuck You

Meremas jari jari di kepanikan
Melepas sadar oleh emosi sesaat
Aku roboh dan terdiam
Kata tak lagi kudengar
Aku jatuh di antara puing penyesalan
fuck you
Diriku tenggelam oleh kesalahan
Kamu menyandang baju sebagai bajingan
Keangkuhan kau pasang seperti topi yang menutupi akal sehatmu
Dekatkanlah tubuhmu kesini
Biar mudah aku meludahimu
Bangsat kamu
Cukuplah aku jadi cerita di hari ini
karena hal seperti ini akan membuat kegilaan
dan silahkan lakukan
karena aku bukan bajingan

Jumat, Juli 25, 2008

Lalu Dan Sekarang

Masa silam yang datang
Hinggap membayang dalam ingat
Menciptakan ketakutan masa lalu
Aku terdiam
Jiwaku keruh
Penantianku tidak tertentu
Mengarap hanya sebuah kesedihan
Lama sudah aku mati
Tak sekarang saja sedih ini
Hanya menyanyikan sebuah nama yang sadarkanku
Tentang keberhasilan dunia gelap yang aku taklukan
Tapi itu dulu
Sekarang aku berdiri di tengah terang
Dan aku bingung senjata apa buatku berperang
Untuk menikam lawanku yang penuh pura pura
Dan menangkan pertempuran ini
Sebagai satria unuk hatiku sendiri
Kuatkan aku
Dan jadikan aku yakin dalam dunia yang tak aku ketahui

Tanah Baru Yang Aku Belum Tau

Merangkak dalam dunia yang kering
Berenangku setelah dari masa gugur itu
Dimana jiwa jiwa yang dulu tersenyum
Oh tuhan tanah siapa ini
Wajah penuh dendam yang dalam
Melihat tajam ke arahku
Kemana lagi senyum manusia disini
Hilangkah kesopanan dalam bersosial
Ini hutan
Dan aku harus menjadi macan
Aku juga akan mengoyak lawan
Untuk takluan dunia baru yang kurang menawan

Apakah Nyawaku Seharga Kebahagiaanmu

Indah membuai raga
Terbang indah harumu membius sukma
Aku terkapar oleh aura aura cinta itu
Lidahku kelu tanpa ada kalimat yang sejukan
Airmataku dipaksa menentes oleh deritamu
Tak tahan lagi
Rasa hatiku tinggal sedikit nyali
Kemampuanku memandang kesedihanmu telah berahir
Cukuplah kau rasakan derita
Izinkan bebanmu tinggalkan di bahu
Membuatmu tersipu dan tersenyum adalah harapku
Segala salahku semoga di hapus nyawaku
Salamkan jiwaku untuk tebusan deritamu
Ingatkan hatimu pernah ada aku
Sedikit hati yang sayang
Mencintai bidadari bersayap kesedihan

Rasa Salah Yang Dalam Menenggelamkanku

Bayang itu masih jelas
Saat Kemarin Kamu masih tanyakan kabarku
Aku sangat heran dengan keangkuhanku
Hingga belum tersadar juga bahwa aku butuh
Sebuah semangat yang selalu keluar dari bibirmu
Maaf aku dalam jerat paksa yang menghasut
Keadaan tak pernah akurkan kita
Setiap kali aku buatmu kesal
Seringkali juga air matamu menetes
Dan tak jarang aku melihatmu murung
Aku harus gimana ?
Hati ini mencintaimu
Badan ini membutuhkan bimbinganmu
Aku gak tau lagi harus gimana menebusnya
Membayar semua apa yang sudah kulakukan
Maafkan

Rabu, Juli 23, 2008

Temanilah Aku Sebagai Seorang Teman

Disini tanah yang dekat tapi tak pernah kudatangi
Jiwa dan ragaku sedang berdiri disini
Dan aku belumm tau apa yang akan kucari disini
Hai teman bantu aku
Bangkitkan semangatku di tanah dulu
Aku butuh tempat menceritakan keluh kesah
Membagi tawa untuk masa laluku
Dan berencana untuk menyerang masa depan disini
Teman kasih aku sebuah nyala api
Maka kalian akan tau bahwa aku punya banyak nyali
Untuk menghanguskan kesombongan dan keangkuhan sekitarku
Teman aku butuh kalian
Tolong buat aku betah untuk berperang disini
Untuk menjadikan matiku sebagai bukti

TENGGELAM DI TEPIAN KERAMAIAN

Menderu
Mencipta haru
Menyeka peluh dalam ketakutan
Telanjang dari segala keramaian
Sedih
Menangis
Menetes darah saat derita
Tawa takan pernah kembali
Kekecewaan menari
Menyekat kesepian
Dalam kalbu yang tak lagi biru

BERJALAN DI SETAPAK PERASAAN YANG GELISAH MENCARI DIRIKU

Berapa tahun ini aku terus berjalan
Menelusuri jalan hidup yang keras
Mencari jawaban dari pertanyaan untuk diriku
Menyelam dari pantai ke samudra
Yang berahir dalam sebuah palung sangat dalam
Disitu pun tak aku temukan
Dimana diriku pernah tenggelam
Jalan ini terlalu jauh
Jati diri itu masi saja kucari
Dan dimana adanya tak pernah di mengerti
Kegalauan yang memaksa nurani
Belantara jiwa yang penuh tanya membawaku ke rimba
Termenung ku di akar angan angan
Kulihat diriku buas tak mampu kuasai perasaan
Kemauan yang di hasut oleh emosi
Dan selalu ditikam oleh penyesalan penyesalan
Rintangan ini sangat pendendam
Memaki dan menghina ketidak berdayaan
Karang masih kuat hadapi ombak
Kutanggalkan pakaian masa silam
Berusaha jadi karang kuat hadapi keadaan
Pencarian ini belum selesai
Penderitaan ini hanya awal
Untuk aku lebih kuat dan tegar
Untuk membalikan dunia

Mencipta Batas Di Langitku

Berkendara angin kuraih atap dunia ini
Kucoba goreskan tinta angan di atas awan
Sedih, sepi, marah, kecewa dan benci ini tintaku
Untuk mencoreng perasaan yang telah hilang
Sia sia apa yang telah terlewati
Meski sudah kubuat batas dalam ujung perasaanku
Yang kaulukiskan itu ternyata harapan semu
Bertahun tahun mencoba untuk percaya
Tanpa harus kucurigai kecemburan
Dan tak pernah kubungkam rasa itu
Tapi kini sudah beda
Hatimu tak punya batas untuk mencintai
Bawalah kesan pergi
dan nikmatilah untuk kematian yang di cipta benci
Karna takan pernah bisa kamu untuk mengerti
Mencintai dan di cintai

MUSIM DINGIN SEPANJANG TAHUN DI PERASAAN

Matahari bersiap pulang di peraduannya
Di pasanglah tirai gelap yang panjang
Terpenuhi langit oleh hitam sang malam
Binatang kegelapan menangis menyambut hadirnya
Terasa sekali sedih dan kebekuan
Airmata ini menetes untuk kepergian dari masa indah dulu
Sangat terasa aku kehilangan oleh kasih
Pagi takan pernah menyapaku lagi
Hanya butir salju yang bekukan hati
Dingin sepi
Kapankah musim ini selasai
Aku rindu matahari hidupku
Karena kamulah yang bisa luluhkan kebekuan hati

Angin sangat kencang meniupkan keputus asaan
Semakin tersa bahwa ini kesendirian yang mencekam
Satu satu daun jatuh
Bumi tak mampu mendengar ratapan
Meski di pangkunya hanya diam yang bisa dilakukan
Tanah yang tak bisa bebelas kasih
Melihat harapan yang pucat terombang abing
Adakah selimut yang bisa menghangat
Karna musim ini sungguh menyiksaku
Membelenggu dalam sedih dan kesepian tak berujung

apa nanti akan datang lagi musim bahagia
Yang akan membuat bunga bunga tumbuh lagi
Dan memaksa burung burung kecil menyanyi riang
Mengahiri sepi yang mencekam
semoga tumbuh lagi harapan ini di musim yang mencekam

ASA DI TANAH BARU

Awalan yang tercipta dari niatan
Ku pacu roda hidupku
Mulai kuinjak tanah baru untuk sebuah harapan
Selamat siang jakarta ....... kuteriakan salam pada kota ini
kucari tombak untuk mulaiku berperang
Kubuat ribuan lamaran
Tapi tak satupun ada pinangan yang kuharapkan itu
Aku mulai resah dan galau
Tak satupun aku lihat medan untuku berperang
Dengan terpaksa aku hanya bertahan dari keadaan

Jiwaku lelah oleh penantian
Berteriak dan meronta hari hariku
Harus kumulai lagi mencariku
Mengais ngais dan memulung harapan di reruntuhan
Dan kusedikit berharap nanti aku akan menemukanya
Jati diriku melintasi hidup ini


( 13-02-2000 ) Stasiun jatinegara

TERPERANGKAP DALAM HATI YANG BERKACA KACA

Berterbangan harap tanpa nyata
Hanya beberapa kata yang sempat terucap
Cinta, cinta dan cinta
Berulang kali itu terucap
Aku tak bisa keluar dari kalimat itu
Seperti lalat di depan jendela saat ini aku
Berusaha ku keluar melihat kenyataan
Tapi terhalang dinding transfaran yang tembus pandang
Lidahpun tak mampu lagi berkata
Hanya kebodohan dan sedikit harap yang ada

Keindahan yang tak bisa kuraih
Kucoba terbangkan anganku kesana
Tapi jiwaku tertinggal dan terkurung dalam keadaan
Sebuah penjara yang menyiksa
Kebebasan mungkin akan jadi mimpi saja

Mungkin raga ini akan membusuk
Tapi rasa ini yang akan terus ada
Penjara ruang kaca ini akan jadi sebuah museum
Dimana banyak peninggalan untuk cinta dan cita
Walau semua tau kenyataannya telah sirna

Aku frustasi
Kuhantam dinding jiwa
Dadaku tergores oleh serpihan harap yang tinggal puing
Asaku melemah
Hayalanku sirna dan angankupun punah
Selalu ingatlah bahwa semua ini ada ahir
Dan itulah yang mengantarku dalam kekal
Selalu mengingat kisah

Minggu, Juni 29, 2008

Membelah lautan jiwa

Tebing curam tepian hatiku
Tercipta curam untuk keramaian
Gairah jiwaku tak menentu
Pasang surut kesedihanku menelan lamunan
Mana pantaiku ....?
Samudraku sepi
Hatiku terperosok dalam palung
Aku rindu ombak besar
Yang akan mendamparkan aku di lautan masa lalu
Untuk mencari pertolongan
Bisakah aku kembali ke zaman nabi musa ?
dengan tongkatnya akan kubelah kesepian jiwa
Dan tenggelamnkan raja hasutan yang cipta sepi
Untuk bisa kuberjuang dengan kesendirian ini

Dilema

Mengerang dalam kehausan harapan
Terjaga dalam mimpi tak berujung
Aku duduk dalam alas pertanyaan
Diriku terjebak dalam dilema hidup
Disana ada sebersit perasaan yang tertinggal
Disini ada sedikit pengharapan semu yang aku juga tak tau
Terlalu berat kepalaku hadapi ini
Beri sedikit jawaban untuk tanyaku






Taman apsari surabaya

Selasa, Juni 03, 2008

Keramaian yang menyepikan

Sajak Di Kegelapan Hampir Pagi

Jelajah anak panah
Menembus relung
Siksakan asa tak pernah tergulung
Kesunyiang meraung menyayat
Kesombongan menenggadah
Menanda emosi belum pernah kalah
Sepi merobek hati
Menagih muka dendam
Untuk janji yang tak tertepati
Kubungkam malam dengan nyanyian
Dan kutendang keramaian dengan puisi
Kuteriakan sajak makian
Untuk menciutkan keberanian gunung dan perbukitan
Lari lah
Menangislah
Karena aku masih dan akan terus disini

Gelombang Hati Terjerat Malam

Usai sudah yang tak terfikirkan
Kemarahan hadir seperti ombak
Yang memaksaku termenung
Menatap hitam selimut alam
Gelap mendera malam
Raga lunglai oleh belitan sepi
Tulang belulang hancur tak mampu berdiri
Tangan hanya hiasan pelengkap badan
Telinga akan terpekak oleh teriakan sunyi
Menjebol gendang pendengaran
Sayatan nyaring kidung kesedihan
Kupagarkan raga dengan lautan
Lindungi perasaan dengan debur ombak
Yang seimbang surut dan pasang

Rabu, Mei 21, 2008

Saat Akal Sehat Di Hasut Kemarahan

Saat kutatap muka merahku dicermin
Sadarku baru hinggap akan kemarahan
Tanganku terkepal keras
Inginku saat ini meludah
Tapi muka itu tak ada untuk menerimanya
Tanah ini pun kubuat mual oleh kebencian
Kurobek langit saat kembali kuingat itu
Akan kutusuk ribuan kali jantungmu
Rambutmu kujambak sampai rontok dari kulit kepala
Biar aku mudah menelan otakmu yang kotor
Meski kau minta ampunan
Pedangku akan kutebaskan ke kedua tanganmu
Biar tidak semena kau menunjuk sesuatu
Setelah selesai mulai kurobek dadamu dengan tanganku
Hatimu akanku berikan pada anjing
Ingatlah kemarahanku tak gampang padam

Selasa, Mei 20, 2008

Saat kepedulian Aku Acuhkan

Langkah ku tinggalkan di tempat itu
Di antar dua sahabat ke terminal Pagi
Sudah lewatlah sedikit keinginan disini
Semalam adalah perlakuan kejam sekali dalam hidup
Bayangan itu kubawa naik dalam bis yang antarkanku
Dalam tujuanku angin membawaku terlelap
Wajah AMAN yang ku ingat sangat peduli denganku
Ingin sekali aku dalam lindungan Adek Bapaku
Dalam dunia nyata ataupun mimpiku sekarang dia adalah yang mengerti
Tapi aku merasa dia terlalu bijaksana dengarkan keluh kesah ini
Kemarin dihari itu ada temanmu yang tusukan belati pada kemarahanku
Ingin sekali kupakaikan baju duri pada temanmu itu
Mau aku potong telinganya untuk hiasan dalam ruang ini
Dia mengusir dengan kata tajam di depan teman teman baruku
Jelas sekali dalam keseriusan tak suka dengan adaku
Aku merasa Aman jika ada AMAN
Dalam tidurpun aku takut kecewakan KAMU
Mungkin kuputusan untuk jauh dari AMAN adalah terbaik
Karena menjadi Keponakan lebih aman daripada jadi rekan
Mungkin aku aman dalam kedudukan saat ini
Tanpa sekitarmu sinis dengan hadirku
Aku tak ingin menoreh noda kemuka Mu
Dan aku takan lagi alirkan darah untuk kebencianku
Janganlah Kau tanggung beban masa depanku
Kalau itu pertaruhkan reputasimu
Amankan emosiku dengan pilihanku Yang mungkin saja salah
Kepedulianmu takan sia sia
Di medan perang lain aku akan bertarung
Dengan pedang yang telah kau wariskan
Hingga kucipta suasana yang iklas dalam diri
Menggapai keadaan aman untuk terus dalam Keamanan perasaan
Maafkan aku acuhkan kepedulian
Karena bakal ada kejadian yang tak terkira bila aku disana
Mungkin itu kematianku atau kematianya
Maka dari itu Biarlah langit yang aku robek
Dan cukup laut yang terkoyak oleh kemarahan
Biarlah temanmu tenang dalam kepura puraanya
Dan mencari muka untuk reputasi yang gak perlu ada
Berhati hati saja karena susah mencari jarum dalam jerami
Tak menutup kemungkinan adanya pemberontakan sepertiku
Kasian remaja yang selalu dalam tekanan
Karna imaji meraka takan pernah ada dalam situasi ketakutan
Pastikan teman temanku dalam keadaan AMAN
Oleh iblis yang penuh kepura puraan itu

Senin, Mei 19, 2008

Tengah Malam Di Menanggal

Sisi ruang di atas dasar
Tempatku duduk dan tulis ini
Aku merasa ada yang beda
Malam jakarta dengan malam surabaya
Disini dingin tapi membara
Panas merajut mimpi untuk mengakiri
Ketersinggungan ini akan terus aku bawa
Apa yang terjadi tadi
Pemicu ledakan murka yang kupendam
Kesan pertama yang tak kuharap
Ingin aku jungkir balikan surabaya
Dalam pelukan kasihku
Tapi amarahlah yang menang
Karna terus bertubi dan mendera
Cukup sudah semua
Akan kubawa ini Dalam kemarahan
ingatkan pada setiap nama

Rembulan Diantara Menara Besi Di Surabaya

Setelah malam lewat tanpa mata terpejam
Langkah kaki sudah ditanah berbeda
Perutku tertanam ranjau
Kepalaku terikat kawat berduri
Banyak orang baru ditempat ini
Dari pagi berangkat menemui sore
Menuju yang sesuatu yang aku belum tau pasti
Banyak hal baru
Yang semua belum tentu aku suka
Dibawah menara itu akal sehatku terhasut
Hampir kuremukan muka manusia yang penuh pura
Tapi ada sedikit sadar yang buat aku sehat kembali
Badanku sakit ragaku perih
Tapi ada yang berani tusukan kata pada perasaanku
Hanya sekedar tulisan dimana ada ingatan disana
Ada satu topeng yang penuh dengan fatamorgana

Berjalan Di Bebatuan Padas Yang Tajam

Dalam aliran sungai panjang ini
Bejalanku penuh keinginan menyusuri
Tanpa alas kaki Sebuah harapan
Ukiran tajam batu hujam setiap sesalku
Berjalanku terus dengan sisa ingin
Darah berceceran alirkan kesedihan
Sudah ratusan batu telah kulalui
Kini sudah sampa aiku ke batu penentuan
Merinding aku melihatnya
Tetes demi tetes telah ubah warna air jadi darah
Batu yang ini begitu tajam
Masih adakah sisa darah untuk lalui
Sampai kemata air yang bisa segarkan ingatanku
Dan basuhkan pedih selama ini

Empat Malam Di Ahir Keputusan Dan Salah Satu Malamnya Aku Menangis

Didera bayang semu pelupuk mataku
Terpaksa ahiri semua asa harus dimana
Dulu banyak kata dan semangat untuk membangunnya
Keputusan yang gak pernah adil buatku
Korbankan harapan beberapa orang dibawah
Pemimpin sialan yang aku temui
Korbankan hak hak yang harus di perjuangkan
Setelah malam itu di meja bertiga
Aku marah dan murka
Selalu dalih proses yang dibicarakan
Aku menangis
Aku sedih
Karna harapan yang dulu ada
Kini mati karena kepentingan dan masukan orang
Kutangisi pun takan kembali
pedangku meski harus menebas batang leherpun takan merubah
Kekecewaan yang dalam akan keputusan yang kalian kukuhkan

DALAM HAMPA KERTAJAYA

Beranjak pergi dengan matahari
Memacu langkah terseret ragu
Besi panjang menjerit yang akan mengantarku
Penuh sesak jalanku masuk
Memaksa kaki untuk enggan beristirahat
Begitu banyak orang disekitarku
Teriakan asongan tak buyarkan kesepian yang mendera
Sekililingku bergemuruh kata manusia
Tapi tak satupun aku lihat wujudnya
Malam ini aku berangkat kesurabaya
Anganku melambung gundah
Keringat yang tertetes menambah kebingungan disana
Untuk berapa jam kedepan aku harus berdiri
Sama juga seperti asaku
Tak ada tempat untuk istirahat dalam lelah
Kerta jaya
Kereta ini mungkin akan menentukan dimana aku akan berada
Jutaan tanya banyak tercipta
Angin malam sudah terlalu banyak kuhirup dai celah jendela
Kopi energen susu begitu teriakan pedagan didalam
Sekali aku melirik melihat pemandangan ini
Kuganti arah pandangku kesudut gerbong
Lelaki tua yang lelah membawa koran lusuh
Dalam hati kujawab ini adalah ranjang keterpaksaannya
Semakin larut aku dalam suara gemuruh kereta
Mimpiku diambang kesadaran
Gelap dan gemuruh membius dalam setengah sadar
Selepas subuh ingatan kembali menyapa
Surabaya kah ini ......?
Cerita ini tak aku ahiri dengan realita
Karna masih ada keraguan yang hinggap dalam dada
Hanya satu harap dalam bayangan
Surabaya akan bersahabat dan menyapa
Karena aku tak tau disini sampai berapa lama
Pagi ini aku sudah di tanah Surabaya
Dan takan pernah tau apa yang akan ku alami disini
Semoga ada pencerahan dalam kegundahanku
Meng ahiri jalan kertajaya di surabaya

Sabtu, Mei 10, 2008

Desa Tempatku Kembali

Diselatan ujung indonesia
Tempat kelahiran Calon kesatria dalam hidupnya
Dikelilingi bentangan hijau bukit tak bernama
Berpagar lautan luas di pesisirnya
Wajah hijau desaku yang sekarang pucat
Selalu ingin kubasuh dengan citaku
Angan ini akan selalu terbang kesan
Harapan ini berharap akan kematian ditanah itu
Desaku
Aku akan kembali padamu
Bermanja dengan ibu bapak
Bertegur sapa dengan teman kecil
Dan menunggu datang saat itu
Untuk tanah memintaku

UNTUK ANAK NEGERI

Derai tangis anak negeri ditengah lautan biru
Teriak haus dan lapar diantara susu dan pangan yang melimpah
Tanganku mengepal hatiku pilu menahan dendam
Melihat penderitaan saudaraku disegala penjuru
Hai para raja yang disana haruskah ini kau tau ?
Melihatkah kalian generasimu diracun dengan tindak pembodohan
Masihkah banyak lagi darah dan air mata yang tumpah
Hanya untuk ketidak adilan ini terus berlangsung
Demi tulang iga para saudaraku yang menonjol diantara kulitnya
Untuk air mata dan keringat duka yang diperas
Dan untuk nyawa yang tak pernah di ingat dalam angannya
Tanpa kita tau bahwa meraka adalah garis keturunan pemerdeka
Sungguh akan habis nasionalis dinegeri ini
Kalo kroni kroni pembangkang, penjilat dan pengahasut masih bercokol
Pencipta semesta kirimkan azab untuk mereka kembali mengingat
Mengingat masa depan negeri ini dan kelangsungan generasi yang dihargai




(KOKO)

Rabu, April 23, 2008

Siapa ?

Penghasut Bijaksana

Menjejalkan fitnah dalam hati
Menabur benci dalam duga
Hal yang tak mesti dilakukan
Kalian adalah pemimpin
Mengayomi adalah kewajiban
Aku lelah dengan hasutmu
Hanya satu inginku saat ini
Kematianmu diruang ini
Karna hidupmu hanya jadi duri
Kami takan jalan dengan kaki terluka
Bijaksana disatu sisi
Menipu kami hal yang sebenarnya terjadi
Tolong berhenti
Jangan paksa aku membuat prilaku yang keji



(untuk manusia tak punya hati)


Kalimalang puri sentra niaga

PAGI YANG TERBELI

Kebingungan fajar yang mencekam
Penuh lamunan akan hari ini
Masihku terdiam untuk beberapa waktu
Sampai iblis datang mendekatkan diri padaku
Lemparan senyumnya paksa ku senang
Tangannya mulai siapkan semua kesenangan semu
Satu gelas kaca memuat spercik air jenewa
Diletakan botol vodka dalam ingatan
Aku merasa senang
Alkohol mulai menyekat rongga tenggorokan
Rasa pusing menyerang dalam hayal
Aku tertawa keras
Pagi ini ada jawaban untuk semua keluh kesah
Meski salah mabuk jadi penyeimbang galau ku
Air terus mengalir
Dasar leherku tetap kering meski terus di guyur
Lupa semakin banyak dalam ingat
Kepalaku berat
Mulai bingung mendera
Racun yang manis
Kini aku hilang di bawah sadar
Imajinasiku cipta mimpi indah
Walau sadar sedihku akan berkunjung lagi



( Malang 08-02-2007 )

DI BALIK MURUNG

assalamualaikum wr wb...
mas... ini adek...
oh iya ada lirik nasyid nih...
rembulan di langit hatiku
Rembulan di langit hatiku
Menyalalah engkau selalu
Temani kemana meski kupergi
Mencari tempat kita tuju

Kan ku jaga nyalamu selalu
Pelita perjalananku
Kan ku jaga nyalamu selalu
Rembulan di langit hatiku

Rembulan di langit hatiku
Teguhlah engkau pandu aku
Ingatkanlahku bila tersalah
Menempuh tempat kita tuju

Doakanlahku di shalat malammu
Pelita perjalananku
Doakanlahku di shalat malammu
Rembulan di langit hatiku


( aku ) = di tempat yang lama kau bisa sampai

TANPA JUDUL

dug... dug... dug
Jantungku berdetak hebat
kurakan perasaan ini lagi
Nafasku sesak....
lidahku kelu....
hatihku perih...
tapi kali ini tidak ada air mata...

aku diam terpaku di depan cermin
tampak wajah pucat ..seorang gadis
menatapku luka
kosong.....
tanpa harap...
SIAPA DIA....?

HEEIIII...!!!
kau tidak pantas menderita lagi
kau tidak pantas berkorban lagi
kau tidak pantas menahan perasaanmu lagi
kau tidak pantas menahan perih itu lagi...lagi..dan lagi

mataku nanar menelusuri tiap sudut ruang.....
suara siapa tadi....
kembali ku tatap cermin
yang kutemukan hanya seraut wajah gadis tadi.....???


HEEIII....!!
Kau berhak bahagia...
kau berhak mendapat seseorang yang menghargai sayang tulusmu
kau berhak mendapatkan seseorang yang memberikan sayangnya hanya u/ 1 wanita
kau berhak untuk di sayang...........

Aku tersentak
ku tatap cermin
dan gadis itu mulai tersenyum
rona kehidupan menjalar di wajah nya

Ku tengadahkan wajah....
dengan sisa keberanian
aku berbicara dengan TUHANKU

TUHAN...!!!
adakah sesorang di ujung dunia sana yang mau nerima sayang tulusku
pengabdianku..........
tubuh kotorku.....

TUHAN...!!!
aku tidak menyesal telah kau pertemukan dengannya
karena dengannya.....
aku merasakan nikmatnya dosa dunia....
dengannya aku mengenal basa basi cinta
denganya aku meraskan perihnya cinta.
dengannya aku mengerti arti ikhlas
dengannya aku bahagia....

TUHAN...!!!
pilihkan aku adam yang bisa menjadi imamku
adam yang selalu melindungiku
adam yang bisa menghargai sayang tulusku
adam yang menghormatiku sebagai wanita

AMIN

Mase puisi ini gambaran perasaanku
saat mase baca tulisan ini
aku sedang coba kumpulin puing2 hati ,dan berharap menemukan
satu bintang terang yang menerangi jiwa




(dari seorang teman sahabat dan saudaraku )
maaf untuk semuanya

Selasa, April 22, 2008

SEKILAS TENTANG AWAL DUNIA

Dizaman saat dulu dunia ini masih sangat muda
Pernah dicipta hawa sebagai pendamping adam
Hingga sampai saat salah menimpa keduanya
Kekhilafan yang memaksa sejoli ini tinggalkan surga
Bujuk rayu setan lebih dasyat dari ayat ayat cinta
Azablah yang paksa turunkan ketanah baru

DUNIA SEMU


Ketikan tangan yang sangat beda
Dengan masing masing karakternya
Mulailah menari jari membuat kata
Konon katanya disini adalah tempatnya
Untuk banyak tau tentang ilmu
Memperluas wawasan atau pengetauan
Kadang aku hanya tertawa
Melihat banyak orang terjerat di dunia maya
Hingga niatku tulis ini
Berpesanku jika ada izin untuk itu
Jangan jadikan semu ini perantara untuk salah
Meski tak pernah berhadap muka
Kata yang tercipta harus bisa kita urai
Dan mempertanggung jawabkannya
Tapi bukan sama lawan bicara
Tapi terhadap diri sendiri dan Pencipta
Untuk instropeksi personality

MENATAP HAMPA UDARA

AIR MATA YANG PEDIHKAN HATI

Berlinang dikelopak
Membasuh bulu matamu yang bersedih
Menetes terus dalam rongga perasaan
Membentuk krystal keangkuhan
Atau malah kepedihan
Merah merona mata yang berkaca
Memaksa sedih dalam dada meronta
Hatimu sakit
Jiwamu meronta
Mendamba ketulusan yang sering di cerca
Kapan mata air mata ini tersumbat
Tertutup oleh tulusnya kasih dan cinta
Dan berahit menoreh pedih di hati penyayangmu

beberapa helai daun lengkapi keindahan bunga

MENYIBAK MALAM

Selatan tak pernah terlihat lagi olehku
Arah menjadi pembohong di hari gelap ini
Hanya sinar temaram yang sedikit temani hati
Sesekali suara desah nafasku pecah kesunyian
Malam semakin dingin dan tak berahir
Perasaan makin gundah dengan ketakutan yang dalam
Jalan tak berujung yang mungkin sekarang kulewati
Kusibak kabut dengan dendam
Kubelah gelap dengan kebencian yang lama kupendam
Tangisan malam beriring embun dingin mencekam
Aku takut
Aku tak kuat lagi
Aku ingin terlelap dalam gelap
Dan membiarkan mimpiku menyelesaikan perjalanan
Biarkan ragaku disini dengan keluh kesah
Karena sudah hancur saat menyibak malam
Sekarang kemana aku tak lagi
selatan ?
Utara ?
Barat ?
Timur ?
Arah sudah jadi pembunuh nurani penunjuk jalan
Tunggulah bila saatnya aku bangkit lagi
Dengan kegelapan sementara
Dan hanya malam yang berujung
Yang hantarkan aku dalam kesepian

Selasa, Maret 18, 2008

CINTA YANG TAK PERNAH DIMENGERTI


Setangkai kamboja gugur daun
Bagai membelai desah angin yang dingin
Menyerbak wangi walau bunga tak segar lagi
Sayu melihat dengan tatapan bayu
Dia hampiri hidupku dengan sang malam
Menggali gelombang dan renangi samudra
Entah mengapa tak pernah kutemukan
Jauh..dan lebih dalam
Sayup kudengar kidung menyayat
Dari balik kecapi berdawai rambut bidadari
Meski telah jauh bayangmu berlari
T kucari arah matahari pergi membawamu
Pada gurat jingga nun jauh dan terluka
Aku seperti malam bagi gelapmu
Dan menjadikan diriku hiasan hitam
Seandainya kamu Mengerti….
Apa yang telah terukir disini
Air matamu bisa mengalir
Tapi aku tak mau malam tinggalkan gelapnya
Meski rasa ini telah mati akan kubuat sebuah prasasti
Dimana dulu pernah ada cinta yang tulus
Untukmu walau aku tak pernah membuktikan
Suatu saat kau akan sadar
Suatu hari matamu akan terbuka
Dan suatu hari ketika kau baca puisi ini
Hatimu akan terjaga bahwa aku butuh kasihmu
Biarkan semua berlalu
Berjalanlah terus kedepan
Cari yang benar dan lupakanlah persaanku
Hingga semua ini berlalu

(18-08-2004)

Kalimalang

TULUS

Tiada perasaan lain yang kumiliki saat ini, kecuali perasaan cinta Dan kasih sayangku terhadapmuTiada rasa lain yang aku miliki kecuali rasa rindu ku yang sangat dalam kepadamu, kini aku teramat merindukan dirimu aku teramat sangat merindukan kisah yang telah kita lewati bersama, sepertinya ingatan itu telah melekat, dan membekas dalam pikiranku dan takkan pernah hilang tiada gambaran dan lukisan lain di hatiku kecuali dirimu, hanya dirimu yang telah mengisi ruang hampa didalam jiwa, tubuh dan ruh ku dengan segala bayang yang memenuhi pikiranku semua khayal tertuju kepada dirimu yang tak pernah padam dan tak pernah musnah hingga ahir nanti, Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dengan kesucian dan ketulusan jiwa yang aku miliki saat ini

Kamis, Maret 13, 2008

MUTIARA

halo apa kabar ?

Tiara begitulah dia kupanggil
Tapi mungkinkah ada sedikit dia ingat
Tiara........................
Belum sedekat bintang dengan malamnya
Tapi ribuan keraguan sudah menghampirinya
Kau kira ada ruang lain dihatiku yang bukan untukmu
Kamu salah......
Dugaanmu salah
Karena hati ini untukmu





25-02-2008

MIMPI



Pagi ini mungkin sangat indah
Aku menemukan tubuhku lunglai tertelungkup
Separtinya badanku lelah
Semalam aku terlelu berfikir berat
Dan memimpikan kamu
Kulihat dirimu berjalan tanpa senyum
Tanpa kata juga yang kudengar
Tak tau lagi apa yang terjadi dalam mimpi itu
Yang jelas kau tinggalkan aku
Sampai kusadar pagi sudah membelai
Mimpi itu mungkin sebuah isyarat
Yang akan terjadi
Dalam hari ku nanti

Rabu, Maret 12, 2008

HANYA SEBUAH PERSAAN YANG MUNGKIN SALAH


Dilantai tiga yang kuanggap dulu jalan kesurga
Kami disini banyak terhasut oleh diam
Mencipta benci dan mengundangnya dihati
Anggapan dan dugaan terus mengalir seperti sungai
Mungkin karena saat itu kami sangat lapar
Harapan banyak terbayang di waktu itu
Untuk mereka sedikit Berbelas kasih
Tapi apa itu pernah terjadi........?
Tidak....Tidak pernah
Sebutirpun kami tak dapatkan nasi itu
Didepan keroncongan ini mereka lahap
Hanya iba saat itu aku
Nyali mereka begitu besar
Melihat kami kami menelan ludah
Yah ahirnya sudah tertelan semua
Basa basi memang sudah menjadi basiiiiiiii
Menawarkan hanya sebuah kepantasan
Untuk menjilat nasi di ujung jari mereka
Banyak tanya ahirnya tercipta
Haruskah aku sedih atau berteriak....?
Atau hanya tertawa melihat ketegaan ini ...?
Mestinya kalian bertanya pada diri sendiri
Pantaskah ada disana
Dan aku juga akan bertanya
Salahkah kalo aku menulis ini semua
Maaf tuan tuan
Ini ada karena tak ada apapun diperut kami
Jadi memang jangan pernah peduli
Terima kasih




(TGL 01-03-2008)UNTUK ORANG YANG HARUSNYA JADI TAULADAN

BUNGAKU




IKRAR


Waktu yang lama telah berlalu
Banyak terlewati cerita tentang harapan
Kini hari itu telah tiba
Menoreh janji ikrar setia arungi bahtera
Mengukir prasasti tentang kasih
Yang tak luntur oleh masa
Diperaduan itu telah dimulai hari hari
Mengarungi pantai ataupun samudra
Bersama lewati pasang dan surut hidup
Takan pernah berhenti mencintai
Sampai batas waktu yang tak ada
Perjanjian ini sudah tertulis di hati
Sampai umur menikam masa muda
Kita akan terus bersanding
Selamanya

Selasa, Maret 11, 2008

BAHASA ALAM


Semburat jingga langit dihening yang pekat
Menabur hujan dari tangis sang awan
Menambah marah debur samudra selatan
Pohon pohon mati ditanah yang basah
Menebar busuk lewat angin prahara
Menyumbat hidung perbukitan gersang
Gunung terdiam simpan misteri letusanya
Tak terdengar lagi gemuruh ombak
Karna gemericik air terjun lebih mempesona telinga dunia
Sepi selalu mereka miliki bersama
Seperti gelap yang selalu mencintai malam
Dan menjadikan rembulan sebagai penjamu terang
Bintang begitu iri dan melihat sinis
Tapi tak terbantah purnama memang begitu indah
Waktu berjalan terlalu lambat
Hingga malam berlama lama dalam kesepian
Tapi di timur ujung jagad matahari sudah tak sabar
Dikeringkanya sisa embun di daun keladi yang kurang ajar
Keringlah air mata bulan
Membuat mukanya pucat karena ditampar siang
Matahari semakin buas
Tangga tangga awan dia daki dengan berlari
Sampai menemukan tempat yang tepat dilangit
Untuk melepaskan anak panah yang panas
Sejanak aku terdiam
Aku mau mampir di tepi telaga ini
Akan kuremuk matahari dalam genggaman
Kuludahi matahari yang sembarang ucapkan sayang
Oh alamku..................
Berhentilah berbahasa padaku
Setiap hari aku rela harus memuji kalian
Untukmu kembali berteman dengan jiwaku
Permintaan maaf akan terucap untuk helai rumput yang terinjak
Jadi kubuktikan sayangku dengan menjagamu
Dan perintahkan angin terus berhembus
Biar lelahku musnah

IBU


Ibu sambutlah kerinduan ini
Kenangan itu selalu ingin membawaku lagi
Dipeluk mesra kasih dalam buai
Ingatan itu masih segar waktu Kau menimangku
Tangisku keras bangunkan keheningan malam
Sangat Jelas terlihat kekhawatiran diwajahmu
Kau cium aku dengan menitikan air mata
Aku masih begitu manja dan terus menangis
Begitu luas samudra kesabaranmu
Kidung cintamu mengantar hati dalam damai
Ibu ? bisakah jasamu aku lukiskan ?
Cukup umurkah aku untuk membalasnya ?
Kebanggaan ini takan ada ahir
Telah dikandung wanita dengan wewangian surga
Hariku penuh kenang dan kerinduan
Menumpang awan dalam kalbu
Tak bisa lagi terungkap rasa cintaku padamu
Waktu jari jarimu mengelus ubun ubunku
Dengan sejuta senyum bertanya hari depanku
Nak mau jadi apa kamu nanti...........?
Kujawab dengan polos sebagai bocah, aku mau jadi pilot Bu,
Aku menyesal dengan jawaban waktu itu
Kalau itu bisa terulang
Pasti dengan bangga aku menjawab
Aku mau jadi anakmu tanpa ada batas waktu
Ibu.........
Ijinkan anakmu mecium jari jemari mu
Memohon maaf untuk masa lalu atau nanti
Kasihmu adalah penyejuk kegundahan
Sejenak kuingin turunkan rembulan
Atau kuruntuhkan langit
Untuk sedikit membekukan durhaka atau dosaku
Ibu ................
Biarlah Tuhan bosan dengan doa dan syukurku
Karna Dia memberi seseorang yang tak pernah berhenti mencintaiku
Terima kasih Ibu untuk yang terlewat atau nanti
Takan pernah mati kasihmu dalam hatiku
Sungkem untuk Ibu.

Senin, Maret 10, 2008


Siang meludah panas di Muka marahku
Lidah matahari membakar waktuku tanpa satu kata
Meninggalkan sekian jam masa lalu yang berat
Aku bingung harus kemana ?
Burung kenari itu tak lagi berkicau
Anjing pun tak terdengar menyalak lagi
Aku mulai takut dengan bumiku
Ditebas hijaunya jantung dunia ini tanpa belas
Aku masih ingat cerita ibuku
Tentang hutan yang megah Yang aku juga miliki
Masih teringatku tentang itu
Sangat berat harus menatap sekarang
Gunungku telanjang tanpa rasa malu
Karna semua sudah terbeli oleh keinginan
Nafsu yang mengasut angkara berbicara
Kalimat yang sadis dan kuat
Membuka hutan dalih kemajuan
Semua bohong tenteng negri ini
Gemah......?
Ripah.........?
Loh ji nawi
Kemana kata kata itu ?
Aku harus cari kemana kalimat kebanggaan tanah ini
Apakah di jendela dunia dia telah di taruh
Apa di teras jagat yang hampir ambruk
Aku kembali berfikir
Kemegahan tanah ini sudah terbeli
Diganti dengan kemunafikan disi sendiri
Akan datang saat itu untuk berontak
Membunuh keinginan dari dalam diriku
Demi kelangsungaan tumpah darahku

ARUNGI GELOMBANG JIWA


Menabur sayang dilautan cinta
Menggelar layar arungi bahtera
Memecah ombak kecurigaan
Disaat pasang beribu ribu praduga mendera
Aku terhempas
Badanku disapu badai prahara
Aku jatuh digulung riak samudra yang dasyat
Segumpal papan harap kuraih walau ombak masih murka
Tertatih meski harus menendang wajah laut
Sekian waktu badanku dingin dalam pelukan badai
bibirku beku tanpa kata apapun
Hanya gemuruh sanubari bergejolak berharap
Untuk menepiku di pantai kasih yang indah
Ombak belum surut juga
Gejolak ini makin murka dan besar
Sampai kapan aku terombang ambing begini ?
Adakah tali yang di ulurkan malaikat dari langit ?
Benang merah pun jadi untuk bencana hati
Untuk selamatkan perahu jiwa yang terancam karam
Cepatlah berahir sang badai
Jiwaku lelah karna Permainan selama ini
Langit teranglah
Dan tidurkan aku di pangkuan bumi
Supaya bangun aku melihat lagi kehadiranku
Dalam jiwa baru yang penuh semangat dan cinta

Jumat, Maret 07, 2008

AHIR


Malam ini sangat pedih dan menyayat
Saat jarum jam sudah kelelahan berdetak
Berita darimu sangat memukulku
Sekian lama ini aku berjalan ternyata harus mati
Membusuk harapanku dalam liang cita yang pergi
Aku belum tau arah dan tujuannya kapal ini
Untuk berlabuh
Tapi ini masih ditengah genangan samudra air mata
Harusnya kamu sadar bagaimana cinta yang kita tumpangi bs sampai
Tapi lupakan semuanya
Aku hanya bangkai yang senang bernyanyi
Jadi teruslah berenang karena dipantai ada imam yang menunggumu
Hari ini aku telah pergi
Karna dua pilihan diambang dusta diri sendiri
Mati dikelilingi kebanggaan atau berdiri tanpa harga diri
Sampai akirnya aku putuskan
Bahwa matahri yang bersinar itu
DanLangit yang luas itu
Hanyalah pijakanku untuk meruntuhkan nasib yang tertulis
Ditanganku yang garis tanganya sudah tidaka ada lagi
Jaga apa yang sudah ada
Karna Kamu bukan milik siapa siapa




Kamis, Maret 06, 2008


Menelan pahit kutukan
Menjadikan diri sehat dalam tekanan
Walau hari hari penuh hasut
Yang membiarkan sejengkal tanah hilang
Dimana nanti tubuh ini membusuk
Sampai terlupakan oleh nyanyian
Biarlah tanganku berdarah
Biarkan mukaku marah
Matahari akan meronta sakit dan sembunyi
Karena kebersalahannya mengganti hari itu
Dan langitpun akan sadar
Bahwa cintaku bisa menendang siangnya jadi malam
Meski itu hanya dalam hati
Luka ini akan terus kuingat
Untuk nantiku membalas dendam
Dengan merobek langit yang telah diam

PARASASTI


Saat leherku tercekik sepi
Namamu datang menegok hari hari
Mengejek remuknya hati karana badai
Aku tau di relung hatimu masih ada aku
Tapi itu tersimpan didalam dasar yang terdalam
Hingga tak satu tanganpun yang bisa memindahnya
Dan aku tak mau jauh dari itu
Karena disini ditepi hati ini
Telah tertulis sebuah prasasti
Dimana pernah ada cinta yang suci
Walaupun untuk bersatu masih dalam misteri
Yakinlah ini bukan hanya sebuah prasati
Karna dia akan terus ada untuk harapan
Padamu..............


Untuk harapan yang pernah ada

UNTUKMU YANG DI HATIKU

Kusebut namaya dalam setiap doa doa
Engkau di gambarkan begitu indah dan sempurna oleh NYA
Wanita yang begitu ikhlas menyayangiku
Walau sebuah asa yang kita punya dihalang aral
Kucoba tulis namamu dengan sepenuh hati
Ukhti yang selalu isi banyak cerita dihati
yang pula dibentuk tanpa cela olehNya
Dan bacalah dengan iklas bahwa itu sangat benar
Jika Surga disebut tempat indah bagi para bidadari
Aku berharap bisa kesana dengan bidadariku sendiri
Gadis yang bisa temani aku dalam segala suasana hati ini
Untuk nanti bersamaMelabuhkan harapan …
Kutuliskan sajak yang kutoreh dari lubuk hati
Dengan sejuta tanya tentang apa yang akan kita mau cipta
Apakah maqoomin aamin itu terbit di dunia
Dimana harapanku ku ukir disana
Aku diciptakan NYA dua puluh empat taun silam
Diriku pun sepenuh aku serahkan pada NYA
Dan DIA akan menetapkan pilihanku untuk memilihmu
Agar suatu hari pergi keselamatnmu DIA yang akan jaga
Walau sampai sekarang galau hatiku belum terjawab
Karna yang aku tau hanya mencintainya
Apa pandangan manusia selalu menilai cinta dengan sempurna
Apakah aku masih dalam alam saderku ?
Pastilah aku dinilai cela karena ucapan ucapan cinta
Biarkan hatiku senang dengan menyebut namamu
Engkau adalah yang terpilih
Dalam jelas yang tak terang akan ada
Karna aku akan hanya berharap
Untuk cinta bersambut dengan perasaanku
Kuharap temukan bahagia disana
Meski dengan pilihan yang mungkin tidak terbaca oleh hati
Semoga keridhoanNya mengantarkan pada kasih dan sayang
Wa ja’ala bainakum mawadah wa rahmah
Sehingga makin terbuka akal kita akan kesyukuran dan kesabaran
Karena sungguh
Inna fi dzalika la aayatin li qaumin yatafakkaruun
Kini biar kujaga diriku
Hingga asa itu datang bersamamu dalam sebuah mitsaqan ghaliza
Wahai bidadari di serambi hatiku
Khairaatun hisaan … huurun maqshuuraatun fiil khiyaam …


To Ukhti

Rabu, Maret 05, 2008

KERIKIL

Pagi hari yang cerah seorang gadis berjilbab keluar dari rumah dengan senyum mengembang solah olah sedang menyapa rerumputan yang masih basah oleh embun tangis malam semalam, dalam perjalanan yang penuh senandung kidung keceriaan itu dia menemukan kerikil tajam yang terlihat kecil tapi bisa membuat masalah besar, gadis itu terdiam dan berfikir " harus aku apa kan kerikil ini ? " melangkahlah dia dengan bimbang melihat kerikil itu,tapi tak tau kenapa berjalanlah lagi dia dengan perasaan yang galau dan mengganjal, lima meter setelah dia berjaan tiba tiba sang gadis putar haluan dan langsung menunduk mengambil kerikil itu, sambil berkata " oh kenapa aku tidak menyingkirkanmu ya ? " berjalanlah lagi dia dengan tenang seolah olah bebanya sudah dia letakan dalam sebuah ruang hati yang bersih, tapi yang jadi pertanyaan kemana kerikil itu disingkirkan ? disepertiga jalanan menuju tujuan gadis itu bertemu sahabatnya " hai mau kemana hari ini ? " tanya gadis penuh dengan senyum persaudaraan, aku mau ke kota jawab sang sahabat dengan manis, mau ngapain ? aku mau milih cicin kawin buat nikahanku bulan depan, ha ???? gadis terperangah bukan seharusnya cowok kamu yang harusnya milihin cincin ?? dia sibuk sama urusanya yang harus dakwah di beberapa kota di jawa timur, jawabnya dengan tertunduk agaqk kesal,si gadis pun mengurungkan niatnya untuk pergi ketujuanya ? berjalanlah mereka menyusuri trotoar yang mengantarkan mereka di pangkalan angkot yang sangat panas, beberapa menit setelah menempuh jalan yang agak rusak langsunglah naik ke angkot yang akan mengantar mereka ke toko mas yang dimaksud, jalanan cepat sekali di tempuh karna tidak begitu ramai untuk ukuran kota dipinggiran salah satu propinsi di jawa tengah itu,lambat laun membelai waktu yang tanpa sadar mereka telah sampai, ayo turun kata sang sahabat, dah sampai ya ? aku jarang lo kesini lo kata gadis? masa seh jawab sang sahabat sambil berlalu menuju toko dimana dia akan dapat cicin kawinnya untuk pernikahan bulan depan,mbak maaf apa cincin pesanan saya sudah selasai ? tanya sang sahabat kepada penjaga toko itu, oo si mbak yang mau kawin bulan depan ya ? iya mbak jawabnya sambil tersipu sipu, ini mbak cincinya sesuai dengan permintaan dan calon suami mbak, hehehehe sang sahabat tertawa kecil kegirangan, eh cincinku bagus gak ? tanya sahabat sama sang gadis, wah ini ma bukan bagus lagi tapi sangat indah,gadis berkata sambil memegang cincin kawin sahabatnya itu, mereka pun bercanda canda kecil sebentar dan sampai pada saat ahirnya mereka memutuskan untuk pulang,samil berjalan menuju pangkalan angkot si sahabat berkata uh perutku lapar neh, kamu lapar gak ? tanya sahabat sama sang gadis, laper juga neh tapi mau makan makan apa ya yang enak ? sambil berfikiri, oh ya aku tau kata sahabat seolah habis menemukan emas segunung, sambil meloncat senang dia tarik tangan sang gadis, dengan berlari lari kecil digandengnya sigadis menuju kafe tenda di pinggir jalanan yang lumayan panas itu, nah ini tempat biasa aku ma pacarku makan dan bercerita cerita, oh ya ? emang enak ya makananya ? tanya gadis sambil masih bingung, si sahabat langsung duduk dengan tenang seolah olah memang dia sangat sering ke tempat itu, tapi sigadis tidak langsung duduk dan memesan, eh aku mo ke toilet dulu ya ? ijin gadis sama sahabatnya, agak cepet ya say sahut sahabat, sambil bernyanyi kecil sahabat memandang sopan kepada pramusaji yang datang menghampiri, setelah berdialog agak lama gitu pramusaji kembali ke dapur dengan membawa dua gelas es jeruk yang segar, sigadis yang baru dari toilet langsung duduk disebelah sahabat dan mengagetkanya, hai ngelamun ya tanya gadis ? iya neh lagi kangen sama si masku jawabnya agak sedih, aduh ada apa neh disakuku kok bokongku sakit kata gadis sambil mengambil sesuatu di kantong celananya yang ada di belakang, apaan seh ? tanya sahabat, o kamu to, ternyata kerikil tadi yang dia mau singkirkan, ya udah tak masukin tas aja kamu ya kata si gadis bicara sendiri, eit buat apaan kerikil gini ? sambil merebutnya, sini aku buang aja kata sahabat sambil melemparnya di jalan, jangan dong ntar kalo ada orang naik motor bisa jatuh gimana ? ah biarin aja lah, nah itu dia menunya baru di anter, kamu pesen apa ? apa ya ? si gadis mendongak sambil berfikir makanan apa yang enak menurut dia , kalo menurutmu apa ? tanya gadis lagi, biasanya aku kalo sama mas makan cah kangkung, iya boleh deh sahut si gadis kepada sahabt, beberapa menit kemudian pesanan sepasang sahabat sudah sampai, eh mang mas mu kaya gimana seh ? tanya gadis, masku yang ini baik kok emang seh bapak yang milihin buat aku tapi dia baik banget sama aku.
Apalagi dia sangat set.............. tiba tiba derit motor yang terpelanting berbunyi keras braaaaaaak, ternyata motor itu jatuh karna kerikil yang sahabat lempar tadi, setia diteruskannya kalimat yang tadi terpotong dengan wajah yang merah dan ketakutan, ya Tuhan maafkan aku, mereka berdua berlari ketempat motor yang jatuh, pengendaranya dua orang sepertinya sepasang kekasih, tetapi yang nyetir masih tergeletak bersimbah darah karna benturan di kepalanya, sahabt ketakutan karna dia tau kerikil itu yang membuat dia jatuh, orang orang yang melihat berdatangan dan membantu korban kecelakaan itu, sementara pengendara yang nyetir itu di tolong masyarakat sahabat dan gadis mendatangi sicewe yang di bonceng pengendara, mbak gak papa mbak tanya sahabat sambil gemetaran, gak papa mbak tapi pacarku gimana itu jawabnya sambil menagis keras,mereka larut dalam ketakutan dan kebersalahan karna sebuah kerikil membuat celaka orang, ambulance pun datang untuk menolong tapi dengan agak menahan nafas salah satu suster yang ikut memeriksa berkata kepada gadis yang dibonceng sang pengendara, maaf mbak kita sudah berusaha membantu demikian singkat kata itu sang kekasih pengendara terdiam sejenak dan tiba tiba dia lari ketubuh lelaki yang menggoncengnya tadi dan menangis sejadi jadinya, mas imam jangan mati aku bagaimana kata itu berulang ulang keluar dari mulut sigadis kekasih pengendara yang bernama imam itu, mendengar nama itu sahabat berlari ke arah jasad yang sudah pergi ruhnya itu, seperti kena palu raksasa sahabt langsung limbung dan jatuh karna shock yang termat berat, ternyata imam yang meninggal dalam kecelakaan ini adalah imam yang mau dia nikahi bulan depan itu,sahabat langsung menagis dipeluk gadis sahabatnya, tiba tiba sahabt diam dan matanya terpejam sahabat pingsan karna tidak kuat dengan kepergian calon suaminya itu atau mungkin karna calon suaminya punya kekasih yang disembunyikan darinya,
Mata yang masih kelihatan sayu itu dengan pelahan terbuka dan hanya plafon yang bs dia lihat untuk saat ini dia kembali dari pingsanya, wajahnya sangat bersedih dan terpukul didapatinya sang gadis sahabatnya memegan tanganya dengan mata yang berkaca kaca, dengan menghela nafas panjang sahabat mulai berkata apakah aku mimpi ? yang sabar ya sahut gadis membelai rambut sahabat yang begitu hitam, mas imam gmn ? sabar ya sayang ucap si gadis memeluk erat tangan sahabat, mas imam telah pergi jawab gadis setengah tertahan, hari hari sahabat masih diselimuti kesedihan yang dalam dan satu hal yang masih membuat sahabat terpukul adalah kabar burung yang dia dapat dari beberapa orang yang menjenguknya, bahwa mas imam sudah ber istri dan cewek yang dia beonceng saat hari naas itu adalah pacarnya juga, berhari hari sampaei berbulan bulan sanabat belum bs menerima penghianatan calon suaminya yang sudah pergi ke alam barzah, si gadis sahabat setianya lah yang besar membatu untuk sahabt keluar dari kesedihan itu, Sahabat telah mendapat berkah dari kerikil yang membuat semua kebohongan alm mas imam terbongkar, dan mulai hari itu sahabta menjalani hidup dengan biasa karna ada sang gadis yang selalu setia menjaga dan menghiburnya untuk menuju hari depan yang lebih cerah.



( maaf masih belajar )

YANG LALU

ketika matahari kembali mengintip dengan sinar di celah gunung itu teringat kembali saat dulu yang pernah aku lalui, masa lalu bukan berarti sangat indah ataupun begitu menderita bahkan masa sekarang pun mungkin tidak hari yang begitu indah tapi jangan pernah berlutut di hari yang sombong dengan penuh hasut keinginan tapi selalu berusahalah membuat jalan untuk masa depan

REMBULAN

Mengintip didahan malam
Mencibir sedih yang tak berujung
Awan yang belai putih permukaanmu
Coba cipta tawa yang nyata tanpa pura

Kaki terus berjalan
Kau ikuti aku dalam pandangan
Mengekor sedih pucat pasi
Seperti telat pulang saat matahari

Lima mil dari sinarmu
awan tebal mulai menggoda
Terpercik halilintar dan bentak langit
Menyenggol kasar sinar yang hampir pudar

Berbaris awan mulai tutup cahaya
langit gelap tanpa sedikit binar binar
Hanya sesekali kilat menjilat
Menggigit malam air yang mau tumpah

Rintik
Jatuh tetes satu satu
Menambah cekam dalam kilatan
Meraba sendi dalam kebutaan

Langit hampir selesai menangis
Awan tebal pamit dari jagat
Menelan gelap mengundang gurat
Memanggil cahaya yang tertutup mendung

Hilangmu
Munculmu
Adalah inspirasi sinyal alam
Yang begitu misteri

KEMBANG MALAM

Merasuk angin menampar malam

Menjamu gelap dengan lipstick tebal

Datang dengan sayup senja dijalan tak bertapak

Mencari tuan dengan langkahseribu galau

Menambah kuncup yang mekar di pinggir trotoar

Dengan senyum binal dan senjata handal

Menebar wangi jerat asmara

Mengikat nafsu tanpa terbayang dosa

Di pupuk nista untuk sebuah harga

Kian subur dengan desahan malam yang ngilu

Bekas darah menjerit mengutuk dan memaki

Untuk sisa perbuatan yang Belum tau ujungnya

Gelegak tawa puas mengantar terbang rupiah kedada

Besok anaku bisa minum susu lagi

Itu jawaban yang pernah kutanyakan padanya

Ataupun lebih sedih lagi untuk didengarnya

Gurat malam menyembur tanya

Mengapa tumbuh kembang disaat senja

Berpayung gedung tua susuri lorong panjang

Akan tumbuh setiap hari

Dijalan jalan kota yang penuh daki

Suara malam menuju tengah

Antar gegap tenggelam dalam riuh

Semakin keras yang meringis mengaduh

Malam semakin teduh

Lebih sedikit raja yang berkunjung

Binatang malam saja yang bersuara penuh tanya

Menyanyi ragu dengan situasi penuh wajah murung

Garis garis pagi sudah mengintip

Memaksa tempat untuk di sulap

Berubah bersih tanpa najis

Yang seolah tak pernah terjadi

MATI

Saat nafas di ujung raga
Terbayang kelakuan pernah terlewat
Dicekik malaikat mengantar nyawa
Melihat cuma raga yang kaku
Saudara handai tolan menyanyi sedih
Menyiram bumi dengan tangis
Saat badan diselimuti putih
Disemayamkan dalam rumah kayu
Yang menghantar pulang
Tanah ini sudah memintamu kembali
Diarak bak pengantin
Tapi bukan tawa
Bacaan zikir yang terus gema
Disana sudah banyak menanti
Dengan mata nanar menahan sedih
Kereta pengantarmu telah sampai
Roda manusia terparkir di bumi yang basah
Melihat lesu masukan raga ke bumi sendu
Rumah yang sempit
Tanpa Pintu ataupun jendela
Sendiri menanti pengurai yang hancurkanmu
Datang Pertanyaan yang dari mana
Tentang amal perbuatanmu
Harus kemana minta tolong
kalau bekalmu tak cukup untuk itu
Matilah dalam banyak uang saku
Bekal iman
Dan pahala yang bisa menolong
Untuk damai disana

SEBUAH KATA CINTA

Lembut berbisik didasar jiwa kosong
Mengalun lirih kidung asmara tentang hasrat
Meratapi semu tanpa makna
Namun tak terjaga meski nyata
Sebagian terucap tanpa kata
Ataupun hanya berbuat percaya
Senandung lirih
Dibelai angin malam yang bekukan nurani
Hanya dihembuskan lewat ujung asa
Sebuah kata cinta
Untuk asmara melebarkan sayapnya
Sebagai penjelajah samudra jiwa
Walau kadang kandas di palung terdalam
Cinta........
Aku yakin sekali itu
Dunia sudah merasakan kekuatan yang dibaginya
Dari kolong jembatan yang mengalirkan darah
Sampai Rumah yang berlantai kulit manusia
Semua butuh..........
Segala lapis dari jutaan tahun yang lalu
Cinta tak pernah mengendap ataupun jadi fosil
Kerangkanya kokoh meski tak berwujud
Dia tak pernah menjadi hantu
Tak pernah mati
Bahkan jadi simbol segala bentuk
Perdamaian
Kemunafikan
Ketamakan ataupun untuk keselarasan
Cuma sebuah kata begitu sakti
Yang buat legendapun pernah jatuh untuk dia
Peradaban peradaban dari masa kemasa jaya dan runtuh karenanya
Begitu hebat kalimat ini
Sungguh dasyat
Cinta.................
Bukanlah awal kebahagiaan
Tapi ketiadaan cinta
Adalah sumber penderitaan
Dia dian di hitam kelam
Menghangat sanubari saat selimut semu tak ada
Haruslah ada pengorbanan menjaganya
Walaupun air mata darah untuk menahan
Untuk damai yang akan terus ada

TEMBOK TUA PARASASTI CINTA


Berdiri tegap walau hanya sisa sisa
Batu bata yang merah basah berkaca kaca
Bercerita bahasa bisu seribu makna
Saat beberapa orang lewat
Disapa dengan degup rona rona
Yang tidak setiap orang mengertinya
Disitu ada namaku
Ada nama dia juga
Yang pernah kita berjanji
Untuk membangun asa bersama
Sebersit perasaan yang lalai aku menjaga
Hingga harapan itu terbang
Pernah berfikir mengulang kembali
Untuk membangun sisa sisa asa
Walau sudah runtuh
Hancur tak tersisa reruntuhanya
Tapi masih ada yang akan bercerita
Karna tertulis parasasti
Di tembok tua saksi bisu
Yang bungkam dengan masa lalu
Meski aku tak pernah percaya
Kenapa kau meninggalkan ini
Seribu jeruji bahasa sudah menahan
Ratusan jebakan kesedihan tak pernah terbaca
Menjadi titik benci yang yang kebalikanya
Tapi aku punya saksi
Untuk setiap saat aku bertanya
Kenapa harus terjadi
Karna ingatan itu akan terus ada
dalam prasasti tembok tua

TENTANG PERASAAN




Beralalu tanpa tengok kepadaku sedikitpun
Tatapan matamu masih tajam menanjap di hitam bola mata ini
Melihat malam pergi bersamamu
Kabutpun buabrkan senyumu yang tersunggin saat melangkah
Aku tidak kehilangan
Mataku bisa kamu lihat apa ada setetes air mata ?
Tidak ada kan ?
Aku tidak kehilanganmu
Dan aku tidak merasa takut sendiri
Malam ini akan cepat berganti
Akan kulihat banyak bintang baru di langit anganku
Yang membelah putus asa diarah depan jalanku
Aku baru sadar
Aku baru bangun dari mimpiku
Aku bukan siapa siapa tanpa kamu
Dan aku gak tau kemunafikan ini menghasut persaanku
Biarlah tanah yang bercerita tetang kebohongan hati ini
Karna ini terungkap saat mati

SEPENGGAL HARAP



Sejuta asa sesak menghirup
Menagih janji seribu harap
Untuk cinta dimasa depan
Berbuat hidup dalam kebaikan
Berharta cinta terus berbunga
Seribu harap sudah kutebar
Akan kamu lihat kucangkul ladang cita cita
Untuk harapanku

Mata hari kembali

Mata hari kembali
saat siang tak lagi setia dengan sang surya gelap datang selimuti dan malam akan datangkan hiasannya seperti bintang dan bulan untuk tempat yang selalu dirundung sunyi, malam .... ? ruang kontemplasi dan instropeksi buat diriku.