Senin, Maret 10, 2008


Siang meludah panas di Muka marahku
Lidah matahari membakar waktuku tanpa satu kata
Meninggalkan sekian jam masa lalu yang berat
Aku bingung harus kemana ?
Burung kenari itu tak lagi berkicau
Anjing pun tak terdengar menyalak lagi
Aku mulai takut dengan bumiku
Ditebas hijaunya jantung dunia ini tanpa belas
Aku masih ingat cerita ibuku
Tentang hutan yang megah Yang aku juga miliki
Masih teringatku tentang itu
Sangat berat harus menatap sekarang
Gunungku telanjang tanpa rasa malu
Karna semua sudah terbeli oleh keinginan
Nafsu yang mengasut angkara berbicara
Kalimat yang sadis dan kuat
Membuka hutan dalih kemajuan
Semua bohong tenteng negri ini
Gemah......?
Ripah.........?
Loh ji nawi
Kemana kata kata itu ?
Aku harus cari kemana kalimat kebanggaan tanah ini
Apakah di jendela dunia dia telah di taruh
Apa di teras jagat yang hampir ambruk
Aku kembali berfikir
Kemegahan tanah ini sudah terbeli
Diganti dengan kemunafikan disi sendiri
Akan datang saat itu untuk berontak
Membunuh keinginan dari dalam diriku
Demi kelangsungaan tumpah darahku

Tidak ada komentar:

Mata hari kembali

Mata hari kembali
saat siang tak lagi setia dengan sang surya gelap datang selimuti dan malam akan datangkan hiasannya seperti bintang dan bulan untuk tempat yang selalu dirundung sunyi, malam .... ? ruang kontemplasi dan instropeksi buat diriku.